Rabu, 19 Juni 2013

Suddenly I Miss You

-->

Aku merindukanmu sepanjang hari kemarin. Ketika kau sedang tidur. Ketika kau sedang menghabiskan malam bersama temanmu, dan aku sendirian.

Aku sudah bilang padamu akan tidur juga, tapi rindu mengalahkan kantuk. Aku terbiasa menghabiskan malam ku denganmu. Mengocehkan apa saja yang ada di benakku yang nyaris pepat. Kau selalu menanggapinya dengan tawa pelanmu yang kusukai itu. Kubayangkan kau mencoba menahan senyummu di sana, agar tak ada yang tahu kau sedang mengobrol denganku.

Merindukanmu adalah hal baru bagiku. Datang tiba-tiba. Menghantam telak jantungku yang dulu kusembunyikan darimu.

Sudah lama aku tidak merindukan siapa-siapa. Sejak begitu lama menjadi cangkang kosong seperti rumah siput yang ditinggalkan penghuninya. Rasa yang begitu nyata, yang kupikir tak akan pernah lagi ada.

Aku merindukanmu. Tiba-tiba. Sepanjang hari kemarin. Ketika aku tahu kau masih bersama temanmu. Kumatikan semua alat komunikasi itu. 'Ngantuk. Aku tidur. Log off.' #nomention

Rindu. Sedih. Sendiri.

Lalu kamu mengirim pesan. Aku tidur dengan senyum di wajah. Senang kau masih memperhatikan.

Hari ini rinduku masih. Karena kau pasti akan tidur lagi sepanjang hari.

Selasa, 11 Juni 2013

Rindu itu Kembali

-->Hai,

Aku rindu padamu. Tiba-tiba saja mengalir seperti sungai yang banjir. Ini rindu yang tak sama seperti dulu. Hanya ingin mengobrol denganmu. Tertawa, bergurau, menyela dan mengerjaimu. Kau terlalu ketinggalan zaman dengan keusilanku. Maka aku ingin membayangkan mu lagi, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala sambil Berkata, "bisa-bisa.".

Aku teringat malam-malam yang kita lewati hingga terasa kantuk di sambungan telpon. Kau dan candaan mu yang membuatku selalu ingin tertawa.

Jatuh cinta padamu membangkitkan segala puisi indah dalam jiwa. Aku menulis beribu kata untukmu dan kau sesungguhnya tahu.
Ada kebohongan, ketidakjujuran, pengkhianatan persahabatan dalam cerita kita. Ada tokoh-tokoh lain yang terlibat di dalamnya. Aku memutuskan menjauh. Sejauh-jauhnya darimu. Menghilangkan seluruh jejakmu dari hatiku. Dan kau benar-benar menghilang bagaikan sejarah yang terlupa. Ada namun tiada.

Malam ini, aku rindu padamu. Jangan kau salah paham dulu. Aku merindukanmu sebagai teman dan pelindungku. Anggaplah bahwa jatuh cinta padamu hanya sebuah insiden yang tak sepantasnya terjadi. Anggaplah bahwa aku hanya seorang gadis tak tahu diri, yang seperti pungguk merindukan bulan.

Aku rindu padamu. Hanya itu. Hanya itu.


Minggu, 09 Juni 2013

KAU *sederhana*

-->

Tahu tidak, aku ingin sekali menulis tentang kau lagi. Tapi tak ada sepotong katapun yang melintas di kepala. Seandainya saja aku bisa menggambarkanmu serupa awan-awan yang mengombak di angkasa, atau serupa burung-burung yang hinggap di dahan randu sambil bernyanyi untuk matahari. Tapi aku cuma menemukan sedikit kata-kata ini untuk menggambarkanmu:

langit yang biru,udara pagi yang harumnya menghangatkan dan angin yang transparan namun terasa.

Itulah kau. Sesederhana itu.

Dan tahu tidak, semua orang yang membaca tulisanku tentang kau mencemaskanku. Mereka bertanya apakah aku baik-baik saja. Kau pasti sudah bisa menebak jawabanku kan? Kukatakan pada mereka aku senang.
Dan kau tidak akan pernah tahu aku memahamimu sedalam itu. Karena kusembunyikan rapat-rapat jantungku dari penglihatamu. Agar kau tak bisa melihatnya merona ketika aku sedang mendengarmu  tertawa. Tawa gugup itu. Tawa bimbang. Tawa yang tertahan oleh berbagai macam perasaan yang tak dimengertinya sendiri.

Aku ingin mengatakan padamu tentang banyak hal,  lebih dari sebelumnya. Tapi aku memenjara semuanya dalam benak. Biarlah hanya sang hati yang tahu.

Entah Buat Sapa ?

-->


: a half of my soul


Liebe  . .
jika aku marah, bisakah kau tetap sabar? Karena aku tak pernah marah tanpa alasan. Dalam marahku tak pernah ada caci maki. Tapi mungkin aku akan mengatakan hal-hal ngawur, membuatmu penasaran dan bertanya-tanya.

Mungkin dalam marahku, aku sengaja membuatmu cemburu. Tapi itu hanya caraku untuk mendapat perhatianmu. Karena kau juga membuatku cemburu. Menunggu begini lama, membuatku bertanya-tanya, kapan kau selesai dengan semua yang sedang kau kerjakan itu.

Jika aku marah, bisakah kau tetap sayang? Jangan ragukan perasaanku. Meski kutulis nama ratusan lelaki, meski kusebut ribuan perhatian yang kudapat. Aku justru ingin menunjukkan padamu bahwa aku bertahan dari semua itu.

Jika aku marah lalu bersikap seolah-olah tak cinta lagi, seolah-olah aku bosan dan benci, bisakah kau sabar merayuku. Karena jika kau hanya diam, dan hanya bisa diam dalam amarah mu, kau akan membuatku menangis bermalam-malam.

Kau tahu aku. Si perajuk dan pemarah, yang mencintaimu setengah mati. Apakah kau pikir aku akan benar-benar meninggalkanmu? Apakah kau pikir aku akan benar-benar bermain-main dengan seseorang di belakangmu? Apakah kau tak paham bahwa aku hanya ingin membuatmu sadar bahwa kita akan saling kehilangan jika kita saling mengabaikan?

Liebe . .
jika aku marah, bisakah kau tetap mencintaiku tanpa syarat? Aku dan sifat kekanak-kanakanku yang suka kumat, aku dan sikap keras kepalaku yang tak bisa lunak, aku dan sikap manjaku yang tak bisa hilang. Bisakah kau tetap bertahan di sisiku selamanya?
Jika aku marah, ingatlah satu hal ini. Aku. Mencintaimu.

---------------


Sabtu, 08 Juni 2013

Setengah Gila

-->
 
  yes, you are in my head,
but that doesn't make you here...
..............

Di sini, di kelas yang pengap ini. Di tengah kebisingan teman-teman ku, aku merangkai lagi semua kenangan. Betapa sedihnya hanya bisa menggali-gali ingatan yang tertinggal, yang terisolir berbagai kejadian. Kamu dan aku, dan segala yang pernah dan belum terjadi.

Semua rencana yang tak terwujud, semua janji yang terlupakan, semua kata-kata cinta yang diabadikan hanya untuk dibaca dan digarisbawahi tebal lalu terabaikan.

Sesungguhnya aku tak pernah lupa. Tapi bagaimana denganmu?

Ini adalah hati ku yang sesak oleh peristiwa. Aku menyusuri setiap jengkalnya dengan kakiku yang letih. Mencari tahu apakah pernah ada jejakmu di salah satu persimpangan hati ku, atau masih adakah tertinggal  bhayangan semu  di pikiran ku.

Tapi aku bukan Sherlock Holmes dan tak ada map untuk bertanya jika perjalananku melenceng arahnya, atau bertanya betapa anehnya kasusku. Tak ada seorangpun yang bisa kuajak berdiskusi tentang misteri perasaanku padamu.

Kamu, yang tak pernah lelah berlari dalam kepalaku, pernahkah terpikir olehmu bahwa aku membutuhkanmu untuk memastikan bahwa aku tetap waras? Karena aku telah terlanjur hidup dalam pikiran orang-orang yang menganggapku gila. Nyaris saja, nyaris saja aku mempercayainya.