
: a half of my soul
Liebe . .
jika aku marah, bisakah kau tetap sabar? Karena aku tak pernah marah tanpa alasan. Dalam marahku tak pernah ada caci maki. Tapi mungkin aku akan mengatakan hal-hal ngawur, membuatmu penasaran dan bertanya-tanya.
Mungkin dalam marahku, aku sengaja membuatmu cemburu. Tapi itu hanya caraku untuk mendapat perhatianmu. Karena kau juga membuatku cemburu. Menunggu begini lama, membuatku bertanya-tanya, kapan kau selesai dengan semua yang sedang kau kerjakan itu.
Jika aku marah, bisakah kau tetap sayang? Jangan ragukan perasaanku. Meski kutulis nama ratusan lelaki, meski kusebut ribuan perhatian yang kudapat. Aku justru ingin menunjukkan padamu bahwa aku bertahan dari semua itu.
Jika aku marah lalu bersikap seolah-olah tak cinta lagi, seolah-olah aku bosan dan benci, bisakah kau sabar merayuku. Karena jika kau hanya diam, dan hanya bisa diam dalam amarah mu, kau akan membuatku menangis bermalam-malam.
Kau tahu aku. Si perajuk dan pemarah, yang mencintaimu setengah mati. Apakah kau pikir aku akan benar-benar meninggalkanmu? Apakah kau pikir aku akan benar-benar bermain-main dengan seseorang di belakangmu? Apakah kau tak paham bahwa aku hanya ingin membuatmu sadar bahwa kita akan saling kehilangan jika kita saling mengabaikan?
Liebe . .
jika aku marah, bisakah kau tetap mencintaiku tanpa syarat? Aku dan sifat kekanak-kanakanku yang suka kumat, aku dan sikap keras kepalaku yang tak bisa lunak, aku dan sikap manjaku yang tak bisa hilang. Bisakah kau tetap bertahan di sisiku selamanya?
Jika aku marah, ingatlah satu hal ini. Aku. Mencintaimu.
---------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar